By tonylunk

]

Selasa, 22 Juli 2014

Server pulsa

http://serverindo.blogspot.tw/2010/12/cara-kerja-server-pulsa-elektrik.html?m=1

Jumat, 18 Juli 2014

Faedah dan khasiat Doa Nurbuat

Keutamaan Do'a Nurbuat

Salah satu Doa yang memiliki banyak khasiat diturunkan Allah adalah Do’a Nurbuat (Nurul Nurbuwah/khotamun Nubuah), syarat utama mengamalkannya agar mutazab dengan berlaku ihklas. Menurut Riwayat, bahwa Rasulullah usai melaksanakan Sholat Subuh bersama para sahabat duduk di masjid. Kemudian datanglah malaikat Jibril seraya berkata: “Aku diutus oleh Allah membawa Do’a Nurbuat untuk diserahkan kepadamu (Rasulullah).”


Menurut keterangan yang disampaikan oleh Imam At Turmuzi Radhiyallahu ‘anhu bahwa :

Barangsiapa menilik atau memandang kepada “Khatamun Nubuwwah” sedang ia berwudhu’ pada waktu subuh, niscaya Allah akan memelihara akan dia hingga waktu petang. Dan barang siapa menilik kepadanya pada waktu maghrib maka terpelihara pula hingga ke pagi. Demikian juga barang siapa menilek kepadanya pada awal bulan niscaya Allah akan memelihara akan dia dari segala bala dan kecelakaan hingga akhir bulan itu. Selanjutnya barang siapa yang menileknya kepadanya sewaktu hendak berjalan (musafir) niscaya jadilah sepanjang perjalanannya itu barokah dan selamat. Barang siapa mati dalam tahun itu maka niscaya dimatikan Allah dalam keadaan beriman insya Allah Ta’ala, tetapi hendaklah yakin sepenuh hati kepada Allah S.W.T. dan sekurang-kurangnya berselawat keatas Junjungan Besar Rasullulah, Nabi Muhammad S.A.W sebanyak 33 kali atau 313 kali sehari agar mendapat kerahmatan, keberkatan, keredhaan, hidayah, pimpinan, petunjuk dan kasih sayang Allah S.W.T Insya Allah.


“Bismillaahir rohmaanir rohiim. Allahumma dzisshulthanil azhiim. Wa dzil mannil qadim wa dzil wajhil kariim wa waliyyil kalimaatit tammaati wad da’awaati mustajaabati ‘aaqilil hasani wal husaini min anfusil haqqi ‘ainil qudrati wannaazhirinna wa ‘ainil insi wal jinni wa in yakadul ladziinna kafaruu la yuzliquunaka bi-abshaarihim lamma sami’udz dzikra wa yaquuluuna innahu lamajnuun wa maa huwa illa dzikrul lil ‘aalamiina wa mustajaabu luqmanal hakiimi. wa waritsa sulaimaanu daawuda ‘alaihimas salaamu al waduudu dzul ‘arsyil majiidi thawwil ‘umrii wa shahhih ajsadii waqdhi haajatii wa aktsir amwaalii wa aulaadii wa habbib linnaasi ajma’in Watabaa ‘adil ‘adaa wata kullahaa min banii aadama ‘alaihis salaamu man kaana hayya wa yahiqqal qaulu ‘alalkaafiriina waqul jaa al haqqu wa zahaqalbaathilu innal baathila kaana zahuuqaa. Wa nunazzilu minal qur’aani maa huwa syifaa-uw wa rahmatul lil mu’miniina. Wa laa yaziidu zhaalimiina illaa khosaaron. Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammmaa yashifuuna wa salaamun ‘alal murshaliina wal hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin.”

TERJEMAHAN MELAYU

“Ya Allah, Zat Yang memiliki kekuasaan yang agung, yang memiliki anugerah yang terdahulu, memiliki wajah yang mulia, menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab, penanggung Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq, dari pandangan mata yang memandang, dari pandangan mata manusia dan jin. Dan sesungguhnya orang-orang kafir benar-benar akan menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, ketika mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila, dan Tiadalah itu semua melainkan sebagai peringatan bagi seluruh alam. Allah yang mengabulkan do’a luqmanul hakim dan mewariskan sulaiman bin daud a.s. Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih lagi memiliki singgasana yang Mulia, panjangkanlah umurku, sehatlah jasad tubuhku , kabulkan hajatku, perbanyakkanlah harta bendaku dan anakku, cintakanlah semua manusia dan jauhkanlah permusuhan dari anak cucu Nabi Adam a.s., orang-orang yang masih hidup dan semoga tetap ancaman siksa bagi orang-orang kafir. Dan katakanlah : “Yang haq telah datang dan yang batil telah musnah, sesungguhnya perkara yang batil itu pasti musnah”. Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Quran tidak akan menambah kepada orang-orang yang berbuat aniaya melainkan hanya kerugian. Maha Suci Allah Tuhanmu Tuhan Yang Maha Mulia dari sifat-sifat yang di berikan oleh orang-orang kafir. Dan semoga keselamatan bagi para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.”

Selain daripada doa nurun nubuwwah ia juga di kenali sebagai; doa nurbuwat atau doa nurbuat juga doa nurbuah dan doa nurbuwah, bergantung pada loghat mengikut suku kaum baik di Malaysia maupun di Indonesia. Doa Nurun Nubuwwah di katakan memiliki khasiat yang banyak sekali dan sangat menakjubkan terhadap siapa yang suka membaca dan mengamalkannya dengan ikhlas hati benar-benar kerana Allah. Dan di antara khasiat –khasiatnya adalah seperti berikut;

Khasiat yang terkandung dalam doa Nurbuat antara lain:

• Hajat dapat terkabul, jika dibaca sesudah sholat fardlu secara rutin.

• Dapat bertemu dengan Jin, bisa merubah rupa .

• Dapat menyembuhkan hewan yang cacad bila dibacakan pada hewan tersebut.

• Dapat diampuni dosa kita, jika dibaca ketika matahari terbenam.

• Dapat disayangi oleh musuh, jika dibaca ketika hendak keluar rumah.

• Dapat menjadi penjaga rumah dari gangguan jin, sihir, santet dan bahaya lainnya, jika ditulis lalu disimpan di dalam rumah.

• Dapat menyelamatkan serangan hama, jika ditulis lalu diletakkan pada tanaman.

• Dapat mengusir jin dari tempat-tempat angker, jika ditulis dan diletakkan di tempat tersebut.

• Dapat kesejahteraan dunia akhirta jika dibaca setiap hari secara rutin.

• Dapat menjauhkan dari kekufuran dan perbuatan maksiat jika dibaca 50 kali setiap malam Jum’at.

• Dapat memperlihatkan hal-hal yang indah, jika dibaca 100 kali pada malam Sabtu.

• Dapat menawarkan air laut, jika dibaca lalu ditiupkan pada air laut tersebut.

• Dapat awet muda jika dibaca setiap malam Minggu

• Dapat keselamatan hidup jika dibaca setiap malam Senin.

• Dapat menguatkan tubuh jika dibaca setiap malam Selasa.

• Dapat menguatkan gigi jika dibaca setiap malam Rabu.

• Dapat menjadikan wajah tampak lebih tampan/cantik jika dibaca setiap malam Kamis.

• Dapat menjinakkan binatang buas jika dibaca pada telinga binatang tersebut.

• Dapat bertemu Nabi Muhammad dalam mimpi jika dibaca 100 kali sebelum tidur.

• Dapat menyembuhkan segala macam penyakit jika dibacakan pada minyak kelapa lalu dioleskan pada
bagian yang sakit tersebut.
• Dapat dikasihi oleh penguasa, pejabat jika dibaca setiap hari.
• Dapat berjalan jauh, jika dibacakan pada daun sirih yang bertemu ruasnya lalu diioleskan keseluruh tubuh dan kedua kaki.
• Dapat bertemu dengan raja jin jika dibaca pada tengah malam dalam keadaan suci.
• Dapat keselamatan dari pertempuran jika dibaca ketika akan berangkat bertempur.
• Dapat diterima lamaranya jika dibaca ditempat sunyi setelah siangnya berpuasa.
• Dapat memudahkan kelahiran jika dibacakan pada segelas air lalu diminumkan pada Ibu yang akan melahirkan tersebut.

• Dapat menyembuhkan sakit pada mata jika dibaca lalu ditiupkan pada mata yang sakit.

• Dapat menyembuhkan gigitan binatang berbisa jika dibaca lalu ditiupkan pada gigitan tersebut.

• Dapat kemuliaan di lingkungan masyarakat jika dibaca secara rutin setiap hari.

• Dapat melenyapkan permusuhan jika dibaca sebanyak-banyaknya

* Masih banyak khasiat yang terkandung dari Do’a Nurbuat

CARANYA:

Bertemu para nabi.

Rasulullah SAW bersabda: ”Barang siapa yang ingin bertemu dengan para Nabi, maka bacalah doa Nurun Nubuwwah sebanyak seratus kali, kemudian tidur, Insya- Allah akan mimpi bertemu dengan para Nabi, di samping itu siapa pun yang melihatnya akan menaruh kasih sayang, dan hendaknya tidak terhenti dalam mewiridkan doa Nurun Nubuwwah ini hingga sampai anak cucu.

Pelindung dari Sihir.

Di riwayatkan , bahawa Rasulullah SAW bersabda setelah solat Subuh ketika duduk-duduk bersama para sahabat di Masjidil Haram, tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril a.s. membawa doa Nurun Nubuwwah, seraya berkata : ”Wahai Rasulullah, aku telah di utus oleh Allah Subhanahu Wa Taala untuk menyampaikan doa ini kepadamu / Rasulullah”. Selanjutnya beliau bersabda :”Doa Nurun Nubuwwah ini banyak sekali faedahnya bila di baca dan diamalkan. Dan apabila tidak dapat membaca atau tidak hafal, maka cukuplah ditulis, kemudian tulisan tersebut disimpan dalam rumah, maka Allah akan senantiasa memberikan perlindungan kepada penghuni rumah itu dari sihir / tenung atau penyakit.

Hajat Tercapai.
Barangsiapa yang membaca dan mengamalkan doa ini secara istiqamah pada setiap selesai solat sekurang-kurangnya sekali, maka Insya Allah apa pun hajatnya akan segera terlaksana.

Jika ada ratu/raja yang ingin menjadi pendeta (orang yang banyak ilmu) maka dengan berkat doa ini Insya-Allah akan berhasil.

Demikian juga jika ada pendeta yang ingin menjadi Wali Allah, maka dengan berkat doa ini Insya-Allah akan berhasil.

Dimuliakan orang
Rasulullah SAW bersabda , ”Jika kamu ingin dimuliakan oleh orang lain, maka bacalah Doa Nurun Nubuwwah.”

Pengasih
Bilamana anda ingin mendekati raja / menteri atau orang yang berpangkat atau berkumpul dengan orang banyak maka bacalah doa ini pada tiap hari sekurang-kurangnya sekali, Insya-Allah semua orang yang anda dekati itu akan menaruh kasih sayang.

Melamar wanita.
Bilamana anda ingin melamar seorang wanita, maka berpuasalah sehari dan malamnya jangan tidur, kemudian bacalah doa ini terus menerus di tempat yang sunyi, Insya-Allah lamaran anda di terima.

Pengaman bagi orang bertengkar
Bilamana ada orang yang bertengkar, sedang anda ingin melerainya maka bacalah doa ini, Insya-Allah orang yang bertengkar itu akan berhenti dan akhirnya saling memaafkan.

Musuh menjadi takut
Bilamana anda pergi berperang (fisabilillah), bacalah doa ini, Insya-Allah tidak di kejar musuh, bahkan musuh akan lari tunggang langgang ketika bertemu dengan anda.

Harta dunia.
Bilamana anda ingin harta dunia, maka bacalah doa ini pada kunir (kunyit putih / temu) kemudian tanamlah di tanah, Insya-Allah akan jadi emas, tapi jangan berbicara atau beritahu orang lain.

Kuat berjalan
Bilamana anda ingin kuat berjalan, bacalah doa tersebut pada daun sirih yang bertemu ruasnya, kemudian sapukanlah mulai dari kepala hingga kaki, Insya-Allah anda akan kuat berjalan walau sejauh perjalanan yang anda tempuh itu.

Penyelamat dari gangguan makhluk halus.
Bilamana doa Nurun Nubuwwah ini ditulis pada kertas lalu tulisan tersebut di letakkan pada tanaman, Insya-Allah tanaman tersebut akan selamat dari hama, apabila di letakkan pada tempat-tempat yang menakutkan atau pada tempat-tempat yang ditempati syaitan atau iblis, jin atau hantu dan segala macam jenis makhluk halus, maka dalam waktu singkat mereka akan berpindah tanpa kembali lagi.

Mengubat dari kerasukan.
Bilamana ada orang di rasuk hantu, syaitan dan jin, atau gila, maka cara mengubatinya adalah bacakan kepada minyak kemudian sapukan ke badannya..

Raja Jin.
Bilamana anda ingin mendatangkan raja jin, maka bacalah doa ini sebanyak seratus kali dalam keadaan tidak berhadas (suci), baik suci badan dan tempat, kemudian masuk di tempat yang sepi pada malam Jumaat. Insya-Allah anda akan dijumpai oleh si raja jin itu.

Menjumpai Jin.
Suatu keajaiban yang luar biasa bilamana ada jin yang ingin menyerupai manusia, maka jadi lah ia manusia lantaran berkah-Nya doa Nurun Nubuwwah ini, begitu pun manusia jika ingin menjumpai jin, maka ia mengamalkan doa tersebut.

Penyembuh Kesakitan.
Bilamana ada orang sakit, maka bacalah doa ini pada minyak (minyak kelapa / sawit wijen), kemudian sapukan pada tempat yang sakit, Insya-Allah akan lekas sembuh.

Penawar gigitan ular
Bilamana ada orang digigit ular, atau kena sengatan binatang berbisa, atau kena racun dan penyakit lain, maka bacakanlah doa tersebut pada tempat yang terkena gigitan atau sengatan itu, Insya’ Allah akan lekas sembuh.

Sakit mata
Bilamana ada orang sakit mata, maka bacalah doa ini lalu tiupkan pada mata yang sakit itu. Insya-Allah akan lekas sembuh.

Sulit bersalin.
Bilamana ada wanita bersalin yang sulit, maka bacalah doa ini pada pinggang atau mangkuk putih yang berisi air, kemudian airnya diminumkan, Insya-Allah bayinya akan segera keluar tanpa kesulitan yang di derita oleh sang ibu.

Turun hujan.
Bilamana akan turun hujan dalam suatu perjalanan, agar anda tidak kehujanan, maka bacalah doa tersebut, Insya-Allah tidak jadi turun hujan.

Binatang cacat
Jika ada binatang yang cacat dengan dibacakannya akan menjadi sempurnalah binatang tersebut

Mengelakkan serang hama pada tanaman
Jika dipasang/diletakan pada tanaman, Insya-Allah selamat dari segala hama

Air masin menjadi tawar
Bilamana anda pergi belayar naik perahu, kemudian di situ anda kehabisan air minum, maka bacalah doa ini pada air laut, Insya-Allah air laut yang semula jadi masin itu berubah menjadi tawar dan boleh anda minum.

Penyelamat siksa neraka.
Bilamana doa ini di baca setiap hari, maka akan selamat dari seksa neraka, selamat dunia akhirat dan terhindar dari godaan syaitan.

Di baca pada malam Sabtu Ingin mimpi yang indah.
Bilamana anda ingin mimpi yang indah, maka bacalah doa ini pada malam Sabtu, sebanyak seratus kali, Insya Allah akan tercapai.

Di baca pada malam Ahad Awet Muda
Bilamana anda baca pada malam Minggu, maka anda boleh awet muda walau usia sudah lanjut.

Di baca pada malam Isnin Memberi keselamatan.
Bilamana anda baca pada malam Isnin, maka Allah akan memberikan keselamatan kepada anda, dijauhkan dari malapetaka.

Di baca pada malam Selasa -Menjadi kuat
Bilamana anda baca pada malam Selasa, maka anda akan menjadi kuat, serta terjauh dari penyakit.

Di baca pada malam Rabu Gigitan yang kuat
Bilamana anda baca pada malam Rabu, maka gigi anda akan menjadi kuat, serta terjauh dari penyakit.

Di baca pada malam Kamis Penyeri wajah.
Bilamana anda baca pada malam Khamis, maka wajah anda bertambah elok sehingga banyak wanita yang terpikat.

Di baca pada malam Jumat Binatang menjadi patuh.
Bilamana anda baca pada malam Jumaat, maka semua binatang yang buas akan menjadi patuh terhadap anda. Jika doa ini di baca sebanyak 50 kali, insya-Allah akan terhindar daripada Kufur, Bidaah dan dijauhkan dari pekerjaan yang keji.

Dibaca ketika matahari hendak terbenam- diampuni dosa
Jika di baca ketika matahari hendak terbenam, maka Allah akan mengampuni segala dosanya.

Senin, 14 Juli 2014

Dua Nama Allah yang Melumpuhkan perih

"Ya hayyu...ya qayyum..." (wahai sang maha hidup kekal...wahai sang maha yg senantiasa mengurus mahluk-Nya...) 
Dua nama Ilahi itu di juluki Ismullah al-A'zham(nama Allah Paling Agung). Rasulullah saw. Brsabda, "Ismullah al-A'zham Yg jika di gunakan untuk berdoa,maka Allah swt.akan mengabulkan doa nya,(yakni) yg trdapat dalam tiga surat al-Qur'an: surat al-Baqarah, surat 'Ali Imran, dan surat Thaahaa." (HR.Ibnu Majah, Hakim dan Thabrani)

Minggu, 29 Juni 2014

Sebuah Kisah di balik Lailatul Qadar

Suatu ketika Nabi SAW tengah berkumpul dengan para sahabat, dan beliau menceritakan tentang seseorang dari Bani Israil yang bernama Syam’un. Allah memberikan kekuatan dan keberanian kepada Syam’un ini sehingga dia berjuang dan berjihad di jalan Allah selama seribu bulan (sekitar 83 tahun 4 bulan Qomariah/Hijriah, atau 80 tahun 10 bulan Syamsiah/Masehi) secara terus menerus. Pedang atau senjatanya yang berupa tulang rahang unta selalu tersandang di pundaknya. Pelana kudanya tidak pernah sempat kering dari keringatnya.Syam’un selalu mengalahkan kaum kafirin yang diperanginya di medan jihad. Hal ini membuat orang-orang musyrikin itu ciut hatinya, mereka berfikir keras bagaimana cara mengalahkan dan membunuhnya. Suatu ketika mereka menghubungi istri Syam’un dengan diam-diam, mereka membawa sepiring perhiasan emas untuk menyuapnya. Mereka minta agar ia mau mengikat Syam’un dengan tali ijuk cukup besar dan sangat kuat yang telah dipersiapkan ketika ia sedang tidur, dan perhiasan itu akan menjadi miliknya. Setelah ia tidak berdaya mereka akan datang untuk menangkap dan membunuhnya.Syam’un memang bukan orang yang materialistis dan bergelimang dengan kekayaan. Walaupun ia memenangkan berbagai pertempuran selama puluhan tahun dan mempunyai jabatan cukup tinggi, tetapi ia memilih hidup dalam kesederhanaan. Apalagi syariat yang berlaku sebelum Nabi SAW, ghanimah atau rampasan perang diharamkan bagi kaum muslimin yang memenangkan pertempuran itu. Harta benda dari kaum musyrikin yang dikalahkan itu harus dikumpulkan pada lapangan luas, setelah itu akan muncul kobaran api dari langit yang akan membakar habis hingga menjadi abu. Dihalalkannya ghanimah bagi umat Nabi SAW merupakan keutamaan yang diberikan Allah, yang tidak pernah dialami oleh umat-umat Nabi dan Rasul sebelumnya.Pola hidup zuhud dan sederhana yang diamalkan oleh Syam’un, yang menghabiskan waktunya untuk ibadah dan berjihad, ternyata tidak bisa sepenuhnya diikuti dan diterima oleh istrinya. Begitu melihat tawaran kaum kafirin itu, ia segera menyetujuinya. Suatu malam ia mengikat suaminya yang sedang tidur itu dengan tali ijuk, dengan sangat kuatnya. Tetapi pagi harinya, ketika Syam’un bangun dan menggerakkan tubuhnya, tali-tali itu langsung putus. Dengan heran Syam’un berkata, “Mengapa engkau melakukan hal ini?”Istrinya berkata, “Aku hanya ingin menguji kekuatanmu!!”Ketika peristiwa itu didengar oleh orang-orang kafir, mereka diam-diam mendatangi istri  Syam’un dengan membawa sebuah rantai besi yang sangat kuat. Malam harinya, istrinya itu mengikat Syam’un dengan rantai itu, tetapi sama seperti sebelumnya, rantai itu putus begitu Syam’un bangun dan menggerakkan tubuhnya. Lagi-lagi istrinya hanya berkilah dengan alasan yang sama.Melihat kegagalan yang kedua kalinya ini, iblis merasa gerah dan ia ikut campur dalam masalah ini. Ia mendatangi kaum kafir dan memberikan solusinya, yakni agar istrinya itu merayu Syam’un untuk menceritakan ‘rahasia’ kekuatannya. Orang-orang kafir itu mendatangi istri Syam’un dengan menjanjikan hadiah yang lebih besar lagi jika bisa melumpuhkan suaminya itu, dengan cara yang diajarkan Iblis. Suatu ketika istrinya berkata, “Engkau bagitu kuatnya sehingga tali dan rantai besi begitu saja putus dan hancur ketika engkau menggerakkan tubuh. Apakah ada sesuatu yang engkau tidak mampu merusakkan atau memutuskannya??”Karena kecintaan kepada istrinya, dengan jujur Syam’un berkata, “Beberapa gombak rambutku ini yang aku tidak mampu memutuskannya!!”Kelihatannya tidak masuk akal, kalau tali ijuk dan rantai besi yang begitu kuat dengan mudah dihancurkan, bagaimana mungkin tidak mampu memutuskan rambutnya sendiri?? Tetapi memang seperti itulah sunnatullah (kebanyakan orang menyebutnya ‘hukum alam’), tidak sesuatu dari mahluk atau ciptaan Allah, kecuali ada kelemahan atau kekurangannya, di samping banyak sekali kelebihan yang dimilikinya.Rambut itulah yang memang menjadi rahasia kekuatan Syam’un yang diberikan Allah kepadanya. Rambutnya itu memang terurai panjang hingga mencapai tanah, dan biasanya hanya digelung ke atas. Malam harinya, diam-diam istrinya memotong rambutnya itu untuk digunakan mengikat ke dua tangan dan kakinya. Pagi harinya, ketika terbangun Syam’un sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya, bahkan ia tampak lemah tidak berdaya. Istrinya begitu gembira dan memberitahukan hal itu kepada orang-orang kafir. Ia memperoleh berbagai macam perhiasan seperti yang dijanjikan, bahkan ditambahi lagi lebih banyak.Orang-orang kafir itu membawa Syam’un kepada rajanya, dan ia ingin mempertontonkan pembantaian Syam’un di hadapan rakyatnya. Pada waktu yang ditentukan, mereka berkumpul di suatu gedung megah, dengan arsitektur canggih yang belum bisa dicontoh sampai zaman modern ini. Bangunan yang begitu luas dan tinggi, layaknya sebuah stadion sepakbola, tetapi tiang utamanya hanya satu saja. Tiang penyangganya itu tidak akan mampu digerakkan atau dirobohkan oleh ratusan atau bahkan ribuan orang.Dalam keadaan terikat dengan rambutnya sendiri,  dan diikatkan lagi pada tiang penyangga utama gedung itu, Syam’un disiksa habis-habisan. Matanya disulut dengan besi panas hingga buta dan dicongkel keluar, dua telinganya di potong, begitu juga dengan lidahnya. Masyarakat kafirin itu bersorak-sorak gembira melihat penderitaan Syam’un. Tidak ada keluhan dan jeritan kesakitan yang keluar dari mulut Syam’un selama penyiksaan itu, kecuali kalimat-kalimat dzikr dan penyandaran diri kepada Allah. Sabar dan tawakal terhadap takdir Allah yang diterimanya.Kemudian Allah berfirman (mengilhamkan) kepadanya, “Wahai Syam’un, apakah yang engkau inginkan atas orang-orang kafir ini? Katakanlah, Aku akan mengabulkannya!!”Syam’un berkata atau berdoa dalam hatinya, “Ya Allah, kembalikanlah kekuatanku, sehingga aku bisa merobohkan gedung ini dan menimpa mereka semua!!”Allah mengabulkan doanya, kekuatannya pulih kembali. Rambut, tali dan rantai yang mengikatnya langsung putus ketika ia menggerakkan tubuhnya. Ia mendorong tiang penyangga utama gedung itu, dan sebentar saja roboh dan gedung itu hancur mengubur orang-orang kafir, termasuk rajanya, yang ada di dalamnya. Mereka semua mati, kecuali Syam’un sendiri, Allah menyelamatkannya, bahkan Allah mengembalikan mata, telinga dan bibirnya seperti sediakala. Syam’un kembali mengisi waktunya dengan berjihad dan berpuasa di siang hari, malam harinya lebih banyak dihabiskan untuk shalat. Ia terus istiqomah dalam amalannya itu hingga kematian menjemputnya.Setelah Nabi SAW selesai menceritakannya, tampak para sahabat menangis, penuh haru dan ghirah (semangat, kerinduan) melihat perjuangan Syam’un tersebut. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tahu, berapa besarnya pahala yang diperoleh Syam’un tersebut?”Nabi SAW berkata, “Aku tidak tahu!!”Sebagian sahabat berkata lagi, “Ya Rasulullah, apakah kami dapat memperoleh pahala Syam’un itu??”Lagi-lagi Nabi SAW hanya berkata, “Aku tidak tahu!!”Melihat keadaan para sahabat tersebut, Nabi SAW berdoa, “Ya Allah, Engkau menjadikan umatku yang paling pendek umurnya di antara umat-umat yang ada, dan yang paling sedikit amal-amalnya!!”Tidak lama kemudian Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dengan membawa wahyu Allah, lima ayat dari surah Al Qadar. Begitu pendeknya surat tersebut, tetapi merupakan keberkahan dan pengutamaan Nabi SAW dan umatnya atas Nabi dan umat-umat sebelumnya. Dengan sedikit amalan, yang sederhana sekalipun, jika dilakukan dengan ikhlas, lillaahi ta’ala dan bertepatan dengan Lailatul Qadar, maka akan memperoleh pahala yang lebih baik daripada pahala yang diterima Syam’un dalam perjuangan jihadnya selama seribu bulan tersebut. Bahkan umat Nabi SAW bisa memperoleh berkali-kali pahala seperti itu selama hidupnya, karena Lailatul Qadar akan selalu datang di Bulan Romadhon. 

Sabtu, 14 Juni 2014

Mencari Jalan Ke Surga

Ah, rasa-rasanya kamu semua bakalan tunjuk jari nih kalo ditanya, “Siapa yang pengen masuk surga?”. Betul? Iya deh, ngaku aja, nggak usah malu-malu (apalagi sampe malu-maluin!). Banyak orang ingin masuk surga kok. Jangankan kaum muslimin, orang kafir dan orang musyrik pun sangat antusias ingin masuk surga (tentu surganya sesuai definisi dan pemahaman mereka, atau jangan-jangan bukan surga yang didapat, tapi neraka buat mereka?). Kalo gitu, surga untuk semua dong? Ah, jangan nebak-nebak en berprasangka gitu. Begini deh, meski banyak orang ingin masuk surga, dan dengan jalan yang berbeda-beda, tapi hakikatnya surga cuma untuk orang-orang yang beriman. Buat yang nggak beriman mah harap ‘dipersori' aja, surga bukan jatah mereka tuh.Sobat muda muslim, ibarat orang yang akan bepergian, maka tentu saja kudu punya bekal dan peta atau penunjuk jalan yang memadai. Kalo nggak? Bisa kehabisan bekal dan mungkin tersesat jalan. Rugi dan malah membahayakan banget kan?Itu sebabnya, seperti halnya orang yang sedang menuju suatu tempat, maka panduan hidup kita di dunia ini juga kudu jelas. Supaya apa? Supaya terhindar dari salah jalan, dan tentunya hidup jadi lebih efektif karena sudah tahu peran kita di dunia ini. Nggak nyari-nyari posisi lagi atau nggak asal berbuat. Inilah pentingnya panduan hidup. Kalo nggak? Jangan salahkan orang lain kalo diri tersesat gara-gara nggak punya panduan dan nggak tahu jalan.Kalo diri sendiri kebetulan nggak tahu jalan, maka bergandengan tangan dengan orang lain yang tahu jalan akan membantu kita mencapai tempat tujuan dengan aman. Tapi kalo ada orang yang buta jalan, tapi sok tahu itu namanya nekatz guys! Coba deh kalo ada orang yang, maaf, buta matanya, tapi begitu dituntun sama orang yang sehat matanya malah menolak, apalagi sampe ngomong, “Gua juga bisa, tahu!” Eh, benar saja, ternyata bisa kejebur tuh! (wong mata nggak bisa ngelihat, tapi nekatz jalan sendiri tanpa panduan).Sebagai seorang muslim, sebenarnya kita udah punya panduan hidup yang oke punya. Kita punya “buku harian” yang “ajaib” banget, yakni al-Quran. Kalo kita baca setiap hari, dikaji setiap ada kesempatan, dan kita renungkan setiap kali selesai mengkajinya, ditambah dengan pengamalan yang mantep, bukan tak mungkin kita bisa menatap masa depan dengan mata yang terus berbinar, hati yang tenang, dan pikiran yang waras. Nggak bakalan was-was lagi, dan siap menghadapi segala risiko. Inilah pentingnya hidup, dan enaknya punya panduan dalam menjalaninya.Sobat muda muslim, kalo dalam karya fiksi kita mungkin pernah baca “Banyak Jalan Menuju Roma”, maka, kalo boleh nyontek dan kita plesetkan, sebenarnya banyak juga jalan menuju surga. Maksudnya banyak hal yang bisa mengantarkan kita ke surga. Asal semua amalan tersebut dilandaskan kepada ajaran Islam dan ikhlas melakukannya. Mudah kan? Nah, tunggu apalagi, kita pancangkan niat yang mantap dan hanya karena Allah Swt. kita berbuat. Bukan karena yang lain. Terus, sesuaikan juga dengan patokan ajaran Islam. Jangan lupa, tetap semangat lho. So, nggak usah ragu en nggak usah bimbang, apalagi takut. Mulai sekarang, kita bisa mulai untuk mencari jalan ke surga. Siap semua kan? Ayo jalan! (tapi lihat kanan kiri, entar nabrak lho! Hehehe…)Jalan ke surga, mudah dan murahSobat muda muslim, ini bukan kampanye soal murah dan murahan. Nggak. Ngapain juga kita cuap-cuap kalo tanpa makna. Tul nggak? Insya Allah, ini sebagai gambaran bahwa jalan menuju surga itu nggak sulit, nggak pula mahal. Tapi sebaliknya mudah dan murah. Emang sih, kalo ukuran kita di dunia biasanya untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang “wah”, kudu dibeli dengan harta yang banyak dan tentu saja agak sulit meraihnya. Kalo pengen naik pesawat yang pelayanannya oke punya, kita kudu keluar duit banyak dan tentunya membuat kita pusing, ribet dan ya boleh dibilang sulit. Tapi sodara-sodara, surga insya Allah mudah dan murah untuk didapatkan. Fasilitas “wah”, tapi harga murah dan caranya mudah.Kenapa mudah dan murah? Kalo kamu ke mesjid, terus ngasih sedekah dengan memasukkan uang ke keropak amal yang disediakan, dan kamu juga ikhlas melakukannya, insya Allah berpahala, meski harta yang disisihkan jauh lebih murah dari harga semangkuk bakso. Oke?Selain bersedekah dengan harta, kamu juga bisa bersedekah dengan senyuman. Wah, asyik juga neh bisa TP alias tebar pesona! Husss.. jangan sembarangan, nggak boleh nakal gitu ah! (luruskan niat ya). Nah, ngasih senyuman yang tulus ikhlas kepada teman-teman kita, insya Allah udah termasuk ibadah. Tentu saja, karena membuat hati dan pikiran saudara kita seneng kan bagian dari ibadah. Betul? Ehm, itu juga mudah dan murah kan?Oya, selain bersedekah harta dan sikap yang enak dipandang mata, ternyata jalan menuju surga bisa juga lewat baca al-Quran. Ih, asyik banget ya? Inilah bedanya membaca kalamullah dengan bacaan biasa. Kalo baca al-Quran dinilai pahala lho, bahkan setiap huruf yang dibaca pun mengandung bobot nilai yang besar. Beda dengan bacaan biasa, misalnya baca komik atau baca koran. Ada sih manfaatnya baca koran, yakni kita jadi tahu informasi, tapi nggak dapat pahala dari bacaan tersebut. Tuh, emang mudah dan murah jalan menuju surga itu kan?Sobat muda muslim, baca al-Quran, lalu mengkaji dan memahaminya, (termasuk dalam hal ini belajar tentang Islam yang lainnya adalah beberapa jalan yang bisa mendapatkan pahala. Kalo udah bicara pahala, maka surga memang tempat mereka yang banyak pahalanya (sebagai ganjaran dari amal baiknya tentu).Guys , sebagai tambahan dan penekanan, agar amal baik kita alias amal sholeh kita, bermakna dan bermanfaat, maka kudu dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan. Karena amal sholeh (kebaikan) kalo nggak dilandasi dengan keimanan ketika berbuatnya maka akan dinilai sia-sia (ih, bener-bener kudu ati-ati deh!).Jadi, memang mudah untuk bisa mendapatkan surga itu, cukup beriman dan beramal sholeh. Mudah dan murah kan? Beriman nggak perlu bayar dengan harta, karena memang keimanan nggak bisa dibeli dengan uang. Tapi keimanan bisa diraih dengan proses berpikir dan dengan niat yang kuat untuk mendapatkannya. Iman nggak bisa diperjualbelikan, Bro !Allah Swt,. berfirman:“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2]: 25)Tuh, jadi gembiralah wahai orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (amal kebaikan). Soalnya, jaminannya surga euy! Nah, ladang beramal itu banyak banget sobat. Ngaji, itu salah satu ladang beramal kita. Meski ngaji itu mudah dan murah, tapi anehnya nggak sedikit yang ogah dateng ke pengajian. Jangankan nggak diundang untuk dateng ke pengajian, kita udah bela-belain ngajak dan ngasih surat undangan untuk hadir di pengajian pun, susahnya minta maaf tuh. Tapi, ketika di RW sebelah ada dangdutan digelar, eh, nggak diundang juga udah pada semangat datang (paling dulu dateng en paling depan nontonnya!). Tuing! Ati-ati sobat!Sobat muda muslim, nggak usah takut dan nggak usah ragu dengan kebenaran Islam ini. Karena apa? Karena Allah pun sudah menjanjikan surga buat orang-orang yang beriman dan berpegang teguh dengan ajaran Islam ini. Nggak bakal goyah walau godaan datang silih berganti dan beragam. Ia tetep istiqomah dengan kebenaran Islam dan nggak luluh oleh gemerlap yang ditawarkan ajaran lain. Allah Swt. berfirman:“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepadaNya.” (QS an-Nisaa' [4]: 175)Subhanallah , sungguh pahala yang besar dan nikmat yang tiada taranya buat kita. Sayangnya, banyak juga di antara kaum muslimin yang nggak bisa dengan kuat berpegang teguh pada ajaran Islam. Mereka ada yang lebih memilih ke jalan yang sesat ketimbang petunjuk yang benar.Eh, kok bisa sih? Begini ceritanya. Jabatan, kekayaan, dan status sosial, bisa menjadi tujuan seseorang dan untuk meraihnya, kadang rela mengorbankan idealisme yang selama ini diyakini dan diembannya. Bukan tak mungkin lho, demi meraih sebuah jabatan, atau menggenggam kekayaan, dan menyandang status sosial, orang bisa dengan mudah menggadaikan idealismenya, menjual akidahnya, dan menelantarkan keimanannya. Duh, ati-ati deh!Tengok deh dalam kehidupan sekarang ini, ternyata banyak teman kita yang lebih memilih larut dalam gemerlap budaya pop yang datangnya dari Barat ketimbang bermesraan dan cinta ama budaya Islam. Atas nama modernisasi, misalnya, remaja muslim nggak sedikit yang berlomba tampil ala Barat; dandanan yang asal nyangkut di badan dan kagak mikir lagi apakah itu menutup aurat apa nggak, makanan yang nggak dilihat lagi apakah itu halal atau haram, bahkan dalam soal hiburan pun banyak teman kita yang menilainya dengan ukuran yang dibuat sendiri; yakni hiburan tersebut menyenangkan atau tidak diukur dari hawa nafsunya. Mereka nggak merhatiin apakah hiburan itu nyerempet-nyerempet dosa atau berbau maksiat, asal senang, “hajar aja bleh”. Gawat euy!Ke surga? Bareng Islam dong!Sobat muda, biarlah orang kafir dan orang musyrik asyik berkhayal dan melamun tentang surga. Karena sejatinya mereka nggak punya peta yang benar untuk menuju surga. Cuma Islam yang punya peta yang benar.Nggak percaya? Allah saja sudah menjanjikan bahwa, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS ali Imran [3]: 19) . Berarti, ini sudah tertutup kemungkinan buat yang lain (kaum kafir dan kalangan musyrik) untuk bisa menuju surga. Kalo kata Sheila on 7 mah , “berhenti berharap” deh! Hmm.. kasihan banget ya?Duh, kita bukan ngeledekin atau menghina, karena memang faktnya demikian. Kita nggak bisa berbohong. Jujur saja, bahwa memang cuma Islam yang punya peta jalan menuju surga lengkap dengan berbagai cara untuk mendapatkannya.Nah, masalahnya, kita sebagai umatnya justru belum sepenuhnya “ngeh” tentang persoalan ini. Udah diberi petunjuk, udah menyandang gelar muslim pula, eh masih aja hobi ngelakuin maksiat. Tulalit banget kan? Ngakunya muslim, tapi seks bebas jalan terus, pake narkoba doyan juga. Duh, gimana atuh bisa dapetin surga? Jangan sampe hidayah yang diberikan Allah kepada kita jadi sia-sia karena kita nggak pandai menjaganya. Karena kita lebih tergoda kehidupan lain yang sebenarnya cuma menawarkan kenikmatan sesaat, udah gitu sesat pula. Amit-amit deh!Sobat, itu sebabnya, yuk kita bareng-bareng mengamalkan ajaran Islam ini. Kuatkan keimanan kita, dampingi dengan ilmu yang benar, dan hiasi dengan amal baik. Trio “iman, ilmu, dan amal” ini kudu hadir dalam kehidupan beragama kita. Insya Allah ini sebagai bekal mencari jalan ke surga. So , semoga nggak ada lagi teman remaja muslim yang nggak punya peta jalan menuju surga.Biar mantep nih, yuk mulai ngaji aja deh, selain memenuhi perintah mencari ilmu, juga karena ngaji bisa bikin kita jadi berilmu, kita pun bisa tahu soal halal-haram. Semoga kita menjadi generasi yang beriman, bertakwa, dan ngerti betul apa yang harus kita lakukan untuk mencari jalan ke surga. Semoga pula kita bisa sama-sama “reuni” di surga, nggak ada salahnya jika kita bilang, “Kutunggu dirimu di surga”.
Insya Allah.
Semangat ya! 

Selasa, 10 Juni 2014

Tanda Kenabian sebelum kelahiran Nabi SAW,Dajjal di belenggu

Dajjal adalah fitnah terbesar yang akan muncul secara nyata menjelang hari kiamat tiba. Tidak ada seorang nabi-pun kecuali mengingatkan umatnya akan fitnah Dajjal, termasuk Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda, “Sejak diciptakannya Nabi Adam AS hingga datangnya hari kiamat, tidak ada perkara (fitnah) yang lebih besar daripada Dajjal.” Nabi SAW bersabda, “…sesungguhnya Dajjal akan muncul dengan membawa semacam surga dan neraka, sesuatu yang dikatakan sebagai surga oleh Dajjal, maka itu sebenarnya neraka.” Beliau juga memperingatkan kita, “Barang siapa mendengar berita kehadiran Dajjal, maka usahakanlah untuk menghindar/menjauh dari dia. Demi Allah, adakalanya seseorang didatangi oleh Dajjal dan ia menganggap Dajjal sebagai seorang mukmin sehingga ia menjadi pengikutnya, karena diperlihatkan kepadanya berbagai macam syubhat.” Dan masih banyak lagi hadist-hadist lainnya mengenai Dajjal ini. Dajjal adalah sosok yang sangat jenius, ia mengetahui berbagai ilmu pengetahuan dan menguasai berbagai macam rahasia alam semesta. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa ia juga sangat menguasai ilmu-ilmu keislaman, sehingga pada awal kemunculannya nanti, ia tampil sebagai seorang muballigh yang saleh. Ia bisa menampilkan berbagai macam keajaiban karena pengetahuannya akan rahasia alam semesta, dan tentunya karena diijinkan oleh Allah, sehingga pengikutnya makin banyak. Lama-kelamaan ia mengaku dirinya sebagai nabi, dan ketika makin banyak orang yang memujanya, ia mengaku dirinya sebagai Tuhan. Tidak ada riwayat pasti yang menjelaskan kapan Dajjal ini dilahirkan? Seorang ulama, pemikir dan jurnalis dari Mesir bernama Syech Muhammad Isa Dawud menyatakan bahwa Dajjal dilahirkan sekitar satu abad sebelum Nabi Musa AS dilahirkan. Kesimpulan itu diambil berdasarkan kajian mendalam beberapa ayat-ayat Al Qur’an, berbagai hadist-hadist Nabi SAW, dan berbagai macam manuskrip (literatur) kuno yang beliau dapatkan dari berbagai daerah di Timur Tengah. Orang tua Dajjal itu tinggal di daerah Samirah, sebuah daerah kecil di Palestina, yang di kemudian hari menjadi kota besar, ibukota dari kerajaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Masyarakat Samirah itu adalah para penyembah berhala dan pelaku berbagai macam kemaksiatan, termasuk sodomi dan liwath (homoseksual). Orang tua Dajjal memiliki sesembahan berhala yang mirip dengan sapi betina, dan sejak pernikahannya, mereka selalu membuat persembahan kepada berhalanya itu, dengan permintaan agar mereka diberi keturunan seorang anak laki-laki. Setelah tigapuluh tahun berlalu, barulah istrinya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, tetapi kedua matanya cacat, satu saja yang bisa melihat dan tubuhnya tidak banyak bergerak. Selama bertahun-tahun layaknya ia hanya tidur saja, tetapi anehnya ia tumbuh sebagaimana bayi pada umumnya. Pada umur empat tahun, di suatu malam ia bergerak meninggalkan tempat tidurnya di antara ayah ibunya dan berpindah ke sebelah berhala mirip sapi betina itu, dan tidur di sana. Beberapa kali dikembalikan, ia berpindah lagi ke sisi berhala itu tanpa diketahui siapapun. Keadaan yang menghebohkan itu sempat membuat ayahnya diperiksa dan ditahan oleh Hakim. Ketika ia berusia lima tahun, Allah menimpakan azab pada penduduk Samirah, buminya diguncang gempa amat keras hingga tanahnya terbalik seperti yang terjadi kaum Sadumi dan Amurah. Anehnya, anak kecil berusia lima tahun itu selamat, tinggal sendirian di antara reruntuhan puing-puing yang berserakan. Sepertinya Allah mempunyai ‘rencana besar’ dengan anak kecil tersebut, dan memerintahkan Jibril untuk memindahkan anak tersebut ke suatu pulau terpencil di antara berbagai pulau di “belantara” Laut Yaman, bagian dari Samudra Hindia. Walau terpencil, pulau tersebut memiliki semua kelengkapan untuk kehidupan, air yang segar, buah-buahan dan berbagai jenis makanan lainnya. Di sana juga ada gua yang cukup besar dan nyaman, yang bisa melindunginya dari panas dan hujan. Allah menugaskan Jibril untuk merawat dan mengajari anak kecil tersebut, khususnya tentang aqidah dan keimanan, termasuk tentang akan datangnya Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul. Secara khusus Allah menciptakan seekor binatang berbulu sangat tebal, yang bisa berbicara seperti manusia, yang disebut Al-Jassasah (yang selalu memata-matai). Al-Jassasah inilah yang sehari-harinya mengajar anak kecil, calon fitnah akhir zaman, Dajjal. Ajaran-ajaran yang disampaikan malaikat Jibril itu tertulis pada tujuh buah panel/dinding batu yang ada di salah satu bagian dari pulau tersebut. Setelah bertahun-tahun tinggal di pulau itu dan ia makin dewasa, suatu ketika ada perahu yang merapat di pulau tersebut, dan ia dibawa serta ke luar pulau. Mereka beranggapan, lelaki itu mungkin korban dari salah satu perahu yang tenggelam dan terdampar di pulau itu. Mereka menurunkan calon Dajjal ini di daratan Yaman yang jaraknya sekitar 4000 km dari pulau tersebut. Ia mulai mengembara, menjelajah berbagai tempat, dan karena Allah membekalinya dengan otak yang sangat jenius, ia belajar dengan cepat dan kepandaiannya makin meningkat, dengan mudah pula menyesuaikan dirinya dengan lingkungan baru. Ia membahasakan (menamakan) dirinya dengan Ibnu Samirah, dinisbahkan pada tempat asalnya seperti diceritakan al Jassasah. Ia bekerja menjadi pelayan seorang filosof Yaman. Suatu ketika sang filosof tertarik untuk memeriksa daya pikir dan keanehan perilakunya, dan akhirnya sang filosof menyimpulkan, “Jika engkau bisa hidup lama, engkau bisa menjadi seorang raja yang sangat adil, atau sebaliknya raja yang sangat lalim!!” Setelah tinggal beberapa tahun lamanya bersama sang filosof, Ibnu Samirah berkeinginan untuk mengunjungi negeri asalnya Samirah, yang berada di Palestina. Ia membeli sebuah perahu besar dan menggaji beberapa nelayan untuk menjalankannya. Segala kebutuhan dan perlengkapan juga dipersiapkan dalam perahunya itu. Tetapi sebelum mengarahkan ke Palestina, ia ingin mengunjungi pulau terpencil tempat masa kecilnya tinggal bersama al Jassasah. Walau tidak mudah bagi orang lain menemukannya, tetapi kekuatan ingatan dan pikirannya dengan mudah membawanya ke pulau itu. Ketika ia berlabuh dengan perahu kecil di pantainya, al Jassasah menatapnya dengan tajam, tetapi kemudian meninggalkannya ke dalam hutan tanpa berkata apapun. Ibnu Samirah berjalan berkeliling mengenang masa kecilnya. Tidak terasa ia telah berusia seratus tahun lebih, tetapi sama sekali tidak ada gurat ketuaan di wajahnya. Bahkan tampaknya ia makin merasa kuat dan tegar, layaknya ketika berusia tigapuluhan. Ketika sampai pada panel batu yang bertuliskan pengajaran Malaikat Jibril, ia menemukan sebuah bejana berisi semacam tinta yang digunakan menulis pada batu. Ia mengambil bejana tersebut, ia juga mengambil atau memotong dari tiap panel batu pengajaran itu untuk kenang-kenangan. Kemudian ia kembali lagi ke perahunya dan mengarahkan ke Palestina. Setelah beberapa hari lamanya mengarungi lautan, ia berlabuh di salah satu lembah di Palestina yang tersembunyi. Ia meneruskan ke Samirah dengan onta yang dibelinya. Walau ia tidak menemukan apa-apa dari negeri Samirah yang masih luluh lantak tanpa penghuni, dari beberapa orang berusia lanjut di negeri sekitar Samirah seperti al-Jalil dan al-Arbad, ia mendengar kisah tentang anak kecil yang diambil dewa-dewa ke pangkuannya. Ada juga kisah selentingan tentang anak kecil yang diculik malaikat ketika terjadi bencana besar yang menghancurkan Samirah. Kisah-kisah tersebut seolah membenarkan jati dirinya seperti yang diceritakan oleh al Jassasah. Setelah tinggal di Palestina beberapa tahun lamanya, ia memutuskan menuju negeri sang Fir’aun, Mesir. Ia ‘melamar’ menjadi pelayan seorang dukun terkenal di negeri itu, yang dengan senang hati menerimanya setelah mengetahui kemampuan dan kecerdasannya. Saat itu Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS sedang mendakwahkan agama Tauhid kepada Fir’aun dan masyarakat Mesir, khususnya kaum Bani Israil yang hidup dalam perbudakan di negeri itu. Dukun yang diikutinya itu seorang yang berusia tigaratus tahun dan sangat mengenal sejarah hidup Nabi Musa AS di Mesir. Ketika ia mendengar kisah Musa tersebut, ia segera menceritakan kisah kehidupannya, yang segera saja sang dukun berkata, “Kalau begitu engkau adalah Musa yang lain, yakni Musa dari Samirah (Musa as Samiri).” Mungkin karena inilah, muncul suatu ungkapan dari sebagian ulama dalam hal pendidikan dan pengajaran, “Musa yang dididik oleh Fir’aun menjadi salah seorang Nabi dan Rasul, sedang Musa (as Samiri) yang dididik oleh malaikat Jibril malah menjadi orang yang paling ingkar kepada Allah…!!” Ibnu Samirah sangat kagum dengan komentar sang dukun itu, dan ia merasa derajadnya tidaklah terlalu jauh daripada Nabi Musa AS. Setelah beberapa waktu lamanya, ia memutuskan untuk bergabung dengan Bani Israil karena ada kedekatan kedaerahan dan garis darah leluhurnya yang bertemu dengan Nabi Musa, yakni pada Nabi Ya’kub. Ia juga menikahi salah seorang wanita Bani Israil tetapi tidak mempunyai keturunan. Namun demikian, walau ia melihat berbagai macam mu’jizat yang ditunjukkan Nabi Musa AS, hatinya tidak bisa sepenuhnya mengimani Nabi Musa AS, termasuk juga mengimani Allah SWT. Sementara itu, beberapa orang dari Bani Israil menunjukkan penghargaan dan kedekatannya kepada Ibnu Samirah karena kecerdasan dan kepiawaiannya dalam beberapa hal. Walau tidak banyak, mereka itu layaknya ‘budaknya’ Ibnu Samirah, yang akan selalu menurut jika diperintahkannya. Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Bani Israil untuk meninggalkan Mesir menuju Palestina, Ibnu Samirah ikut serta dalam rombongan besar itu. Beberapa kali lagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri mu’jizat Nabi Musa AS, termasuk membelah lautan dengan tongkat beliau, tetapi semua itu tidak membuatnya beriman. Bahkan terbersit dalam pikirannya, “Akupun bisa melakukannya suatu saat nanti, bahkan bisa lebih dahsyat!!” Ketika Bani Israil telah selamat dari kejaran Fir’aun dan tiba di sisi gunung Thursina, Nabi Musa meninggalkan mereka dalam pengawasan Nabi Harun untuk segera ‘menghadap’ Allah di Bukit Thursina. Pada saat itulah Ibnu Samirah membikin ulah dengan membuat sebuah patung anak sapi dari emas dan dapat bersuara, dan mengatakan bahwa itulah tuhannya Musa dan Bani Israil. Sebagian besar dari mereka mempercayainya dan menyembah patung emas tersebut, segala upaya dilakukan oleh Nabi Harun untuk mencegah mereka tetapi mengalami kegagalan. Lebih lengkapnya bisa dilihat dalam Al Qur’an Surat Thaha ayat 83-97, lebih baik lagi kalau dilengkapi dengan tafsirnya. Hanya saja yang menjadi dasar renungan Syech Muhammad Isa Dawud sehingga ‘menyimpulkan’ bahwa Samiri atau Ibnu Samirah ini adalah calon Dajjal, adalah sikap Nabi Musa dalam peristiwa itu. Begitu turun dari Thursina sambil membawa shuhuf yang terbuat dari batu berisi Perintah-perintah Allah (The Ten Command The Men, istilah baratnya), Nabi Musa melihat kaumnya telah menyembah dan menari-nari di depan tuhan barunya, sebuah patung sapi betina dari emas yang bisa bersuara. Hati Nabi Musa sangat marah, mukanya merah padam dan tanpa disadari beliau melemparkan shuhuf yang beliau pegang sambil berteriak keras. Mendengar suara keras beliau tersebut, kaum Bani Israil langsung menghentikan aktivitas penyembahannya dengan ketakutan. Kemudian Nabi Musa menghampiri Nabi Harun, menarik janggut dan memegang kepalanya dan berkata dengan marah, seolah-olah Nabi Harun telah mengabaikan perintahnya, lihat Surat Thaha ayat 92-94. Padahal Nabi Harun telah berusaha keras, tetapi beliau tidak mampu mempengaruhi Bani Israil yang telah berada di bawah kendali dan pengaruh Samiri atau Ibnu Samirah itu. Tetapi ketika Nabi Musa menghadapkan diri kepada Samiri, otak dari segala macam kekacauan dan fitnah bagi Bani Israil sepeninggal beliau ke Thursina, Al Qur’an (Surat Thaha ayat 95-97) tidak menjelaskan ‘sikap keras’ Nabi Musa seperti sebelumnya, bahkan akhirnya beliau hanya berkata, “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu dalam kehidupan dunia ini hanya bisa berkata : Janganlah menyentuhku. Dan sesungguhnya bagimu telah ada ketentuan waktu, yang kamu tidak akan bisa menghindarinya….!!” (QS Thaha 97).  Nabi SAW telah menjelaskan, “Sesungguhnya saya memperingatkan kalian akan Dajjal. Dan tidak ada seorang nabi-pun kecuali mereka mengingatkan kaumnya (tentang dirinya). Akan tetapi saya akan menyampaikan kepada kalian apa yang belum pernah disampaikan nabi-nabi kepada kaumnya. Sesungguhnya ia (Dajjal) itu buta sebelah dan sesungguhnya Allah tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua mata Dajjal ka-fa-ra (artinya kafir)!!” Mungkin ketika Nabi Musa menghadap ke Samiri, beliau melihat tanda-tanda Dajjal pada dirinya. Karena itu, walau beliau termasuk seorang yang sangat keras dalam menerapkan syariat, tetapi beliau membiarkan Samiri pergi, karena beliau meyakini Allah telah mempunyai rencana sendiri dengan dirinya. Sementara kepada kaum Bani Israil yang menyatakan dirinya bertobat, beberapa di antara mereka yang punya andil besar dalam penyembahan berhala tersebut, disyaratkan untuk bunuh diri agar taubatnya diterima, dan mereka mau melakukannya. Bagaimanapun, kehidupan akhirat jauh lebih bak daripada kehidupan dunia. Setelah diusir Nabi Musa, Ibnu Samirah kembali melanjutkan pengembaraannya dari satu negeri ke negri lainnya. Entah berapa tahun atau berapa abad perjalanannya ia hampir tidak merasakannya karena ia tetap dalam kemudaannya. Pengetahuannya makin bertambah banyak dan semua itu makin menambah kesombongan dan ambisinya. Setelah cukup lelah menjelajah, ia memutuskan untuk kembali ke pulau tempat ia dibesarkan. Ia mengira, al Jassasah yang telah menjadi ‘teman’ masa kecilnya itu telah mati, ternyata tidak. Ia menemukannya di dekat panel batu yang berisi pengajaran malaikat Jibril. Tetapi ia sama sekali tidak berbicara (menjawab) ketika diajaknya bercakap-cakap. Yang keluar dari mulutnya hanyalah ucapan yang berulang-ulang, “Laa ilaaha illallaah, lahul mulku wa lahul hamdu, yukhyii wa yumiit, wahuwa ‘alaa kulli syai-in qodiir!!” Setelah beberapa waktu lamanya hidup di pulau itu tanpa bisa berkomunikasi, ia kembali mengadakan perjalanan berkelana. Ia mendengar tentang seorang nabi yang menghebohkan, dengan gelaran al masih, yakni Nabi Isa AS. Ibnu Samirah tidak mau langsung bertemu atau menyatu dengan umat Nabi Isa seperti ketika dengan Nabi Musa dahulu. Ia mengirim seorang utusan sementara ia menunggu di luar, dengan sebuah pesan kepada Nabi Isa AS, “Jika engkau benar-benar seorang nabi, katakan kepadaku siapa yang di luar?” Ketika utusan itu menghadap Nabi Isa dan menyampaikan pesan tersebut, sejenak Nabi Isa terdiam, kemudian beliau bersabda, “Wahai saudaraku, katakan kepada orang yang mengutusmu itu, bahwa Allah yang Maha Perkasa dan Maha Agung menerima taubat dan mengampuni semua dosa hamba-Nya, jika hamba tersebut mau bertaubat dan mengesakan Allah maka ia benar-benar akan kembali (suci). Allah-lah yang melindungi anak kecil yang sedang tidur dari kekejaman penguasa, Dia-lah pula yang memeliharanya di pulau tempat tinggal binatang raksasa ketika ia masih kecil. Dia-lah yang mengajarkan kepadanya Keesaan Allah dan shalat melalui tulisan kepercayaan-Nya Jibril. Dia Maha Kuasa untuk memaafkan fitnah yang dibuatnya kepada Bani Israil, asalkan dia beriman kepada al Masih ar Rabb (yakni Nabi Isa AS), dan kepada kitab Injil yang diturunkan kepadanya..!!” Setelah mendengar jawaban tersebut dari orang yang diutusnya, Ibnu Samirah segera berlalu pergi. Tampaknya pengalaman pahit ketika bertemu dengan Nabi Musa membuatnya jengah untuk bertemu dan bergaul dengan Nabi Isa, apalagi tidak niatan sama sekali dalam hatinya untuk bertaubat. Maka ia melanjutkan ‘tradisi’ pengembaraannya dari satu negeri ke negeri lainnya. Kalau ada suatu tempat yang belum pernah dikunjunginya, maka ia akan segera menuju ke tempat itu. Setelah berabad-abad tanpa ia menyadarinya, kerinduannya kepada pulau tempat al Jassasah itu muncul juga, dan ia mengarahkan perahunya ke sana. Ibnu Samirah menambatkan perahunya dan berjalan menuju gua tempat tinggalnya dulu. Tetapi tiba-tiba muncul al Jassasah menghalangi jalannya, binatang raksasa berbulu tebal ‘teman’ masa kecilnya itu tidak sendirian. Ada duapuluh orang berwajah seperti matahari, tingginya seperti pepohonan dan masing-masing dari mereka membawa semacam rantai besi bercampur baja yang mengkilat laksana emas. Ibnu Samirah yang mempunyai pengetahuan luas tentang berbagai macam barang tambang di bumi, sepertinya tidak mengenali jenis logam tersebut. Tiba-tiba saja ia merasakan suatu ketakutan amat dalam sehingga tubuhnya menggigil. Padahal selama ini ia tidak pernah merasa takut kepada apapun dan siapapun, termasuk ketika ia menghadapi Nabi Musa AS, setelah fitnah yang dikobarkannya lewat patung emas anak sapi yang sempat menjadi sesembahan Bani Israil. Ketakutan yang pertama kali dirasakannya itu membuat ia lupa jati dirinya, lupa pada kecerdikannya, kekuatannya, kesombongannya, ambisinya dan lupa pada semua kelebihannya yang selama ini menjadi andalannya. Dengan terbata-bata ia berkata, “Apa ini? Siapa mereka? Bagaimana mereka sampai di sini?” Al Jassasah berkata dengan tegas, “Wahai orang yang paling bodoh, engkau telah menyia-nyiakan dua kesempatan (untuk bertaubat, yakni ketika bertemu dengan Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS), dan kini tidak tersisa lagi bagimu kecuali janji terakhir!!” Belum sempat Ibnu Samirah berkata atau berbuat apapun, duapuluh orang berwajah cahaya itu menyerangnya dan ia langsung pingsan karena takutnya. Ketika terbangun, ia telah berada di dalam gua, kaki dan tangannya terbelenggu dengan rantai yang cukup panjang sehingga ia bisa bergerak leluasa di dalam gua tersebut. Ketika ia mencoba mengerahkan kekuatan dan ilmunya untuk membuka/mematahkan rantai tersebut, tampaknya sia-sia saja. Padahal berbagai jenis logam di bumi dengan mudah ‘dikendalikan’ dengan ilmu dan kekuatannya. Al Jassasah yang juga berada di dalam gua itu, setelah melihatnya putus asa dengan segala upayanya, berkata dengan tegas kepadanya, “Wahai Dajjal masa depan, sekarang engkau berada di zaman penutup para nabi, kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW. Ia telah lahir beberapa hari yang lalu ketika engkau berada di tengah lautan. Engkau berada di penghujung akhir zaman di bumi. Janji Allah telah datang masanya, engkau tidak akan terlepas dari belenggumu itu kecuali jika telah kekasih Allah, Muhammad SAW telah wafat, berpulang ke hadirat Yang Maha Tinggi. Sedangkan tanda keluarmu sebagai orang yang paling sombong di muka bumi adalah terputusnya pohon kurma Baisan (dari berbuah), berkurangnya air danau Thabariyah, mengeringnya mata air Zhugar, dan banyak terjadinya gempa bumi yang dahsyat…!!” Setelah itu al Jassasah meninggalkannya sendiri. Sesekali ia datang ke dalam gua membawa berbagai buah-buahan, tetapi tidak pernah berbicara atau menjawab ketika diajak bicara, kecuali hanya pandangan keprihatinan. Beberapa puluh tahun berselang, sekelompok orang dari Palestina terdampar di pulau itu karena perahunya mengalami kerusakan. Mereka itu adalah Tamim ad Daari, seorang pendeta Nashrani dan teman-temannya, yang sempat melakukan pembicaraan dengan Ibnu Samirah atau calon Dajjal ini, dan akhirnya memeluk Islam dan menjadi salah seorang sahabat Nabi SAW. Lihat kisahnya dalam laman “Percik Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW” di bawah judul “Tamim ad Daari”. Dalam versi Syech Muhammad Isa Dawud ini, setelah Rasulullah SAW wafat, belenggu Ibnu Samirah atau Dajjal tersebut tiba-tiba melunak dan dengan mudah ia melepaskan diri. Ia segera keluar dari pulau tersebut dan sepertinya ia tidak pernah ingin kembali lagi ke pulau tersebut setelah ‘pengalaman pahit’ 63 tahun (qomariah/hijriah atau 61 tahun masehi) terbelenggu dalam keadaan lemah tak berdaya. Tak lupa al Jassasah mengantar kepergiannya dengan doa laknat sebagaimana laknat yang ditimpakan Allah kepada Iblis. Ia kemudian melanjutkan kebiasaannya melanglang buana ke seluruh penjuru dunia, khususnya negeri-negeri yang belum pernah dikunjunginya. Dalam versi lainnya, yakni pengajian dari para ulama yang pernah saya dengar, belenggu Dajjal sebenarnya belum terlepas sampai saat ini. Setiap saat ia ‘menggerogoti’nya agar belenggu itu terlepas, tetapi bersamaan dengan itu, setiap kali adzan dikumandangkan, belenggu itu makin kuat dan makin menebal lagi. Tetapi Dajjal tidak pernah beristirahat dan putus asa untuk berusaha memutuskan belenggu tersebut. Jika suatu saat nanti di bumi tidak ada lagi yang mengumandangkan adzan, tidak ada lagi yang menguatkan belenggu Dajjal dan ia akan terlepas dan menyebarkan fitnah ke seluruh penjuru dunia. Namun untuk kisah versi yang ini, saya belum menemukan rujukan kitabnya. Wallahu ‘Alam.

Syafaat Nabi Muhammad SAW pada yaumul mahksyar

Semua manusia, sejak Nabi Adam AS hingga yang terakhir mati pada hari kiamat, dibangkitkan kembali dari kematiannya dengan tiupan sangkakala Malaikat Israfil, yang setelah itu mereka tidak akan merasakan kematian lagi. Setelah itu mereka semua digiring menuju padang Makhsyar. Secara umum, mereka terbagi dalam tiga kelompok, yakni yang berkendaraan, yang berjalan kaki, dan yang berjalan dengan wajahnya. Umat Nabi SAW sendiri terbagi dalam duabelas kelompok ketika dibangkitkan, satu kelompok yang dibangkitkan dengan wajah bersinar seperti bulan pertama, dan sebelas kelompok lainnya dibangkitkan sesuai dengan kadar dosanya masing-masing. Ada yang dibangkitkan tanpa tangan dan kaki padahal saat hidup di dunia lengkap semua, ada yang wajahnya seperti babi, ada yang seperti keledai dengan perut besar yang dipenuhi ular dan kalajengking, ada yang ususnya terburai dengan mulut mengeluarkan darah dan api, ada yang baunya seperti bangkai dan lain-lainnya lagi yang keadaannya sangat mengerikan. Ketika tiba di padang Makhsyar, mereka berdiri menunggu keputusan Allah, apakah akan ke surga atau ke neraka? Saat itu matahari didekatkan sehingga keadaannya sangat panas, dan hampir semua manusia dalam keadaan berkeringat, kecuali yang berada di dalam lindungan Allah. Keringat itu ada yang menggenangi sampai tumitnya, sampai betisnya, sampai lututnya, sampai pahanya, sampai tulang rusuknya, sampai mulutnya, bahkan ada yang menenggelamkannya, sesuai dengan amalannya masing-masing ketika di dunia. Dan keringat itu seolah-olah mencambuki tubuh yang mengeluarkannya. Beberapa orang ahli maksiat lainnya juga mengalami siksaan sesuai dengan dosanya. Mereka berdiri menunggu dalam keadaan seperti itu selama 40 tahun, di mana satu harinya setara dengan seribu tahun dunia. Dalam ayat lain dijelaskan, satu hari saat itu setara dengan 50.000 tahun dunia kita sekarang ini. Ada tujuh golongan yang mendapat perlindungan Allah, sehingga sama sekali tidak merasakan panasnya matahari yang didekatkan dan tersiksa oleh keringat seperti yang lainnya. Mereka itu adalah (1) Imam/pemimpin/pemerintah yang adil. (2) Pemuda yang giat beribadah kepada Allah. (3) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah. (4) Pemuda yang diajak berzina oleh wanita yang cantik dan kaya, tetapi ia menolaknya dan berkata, “Aku takut kepada Allah, penguasa alam semesta.” (5) Seseorang yang selalu berdzikir kepada Allah, sehingga mengalir air matanya karena takut kepada Allah. (6) Seseorang yang bersedekah secara rahasia dengan tangan kanannya, sehingga tangan kirinya itu tidak mengetahui. (7) Seorang pemuda yang hatinya selalu ‘tergantung’ (condong) ke masjid. Ketika semua manusia dalam penantian dan penderitaan tak berujung tanpa kepastian, kecuali tujuh golongan tersebut, salah seorang dari mereka berkata, “Apakah tidak ada yang mengetahui, siapakah yang bisa memintakan pertolongan (syafaat) untuk kita dari Tuhanmu?” Salah seorang berkata, “Kamu harus datang kepada Nabi Adam…!!” Maka mereka berombongan menuju ke tempat Nabi Adam AS, dan berkata, “Wahai Nabi Adam, engkau adalah bapaknya umat manusia, Allah menciptakan engkau dengan kekuasaan-Nya, Dia yang meniupkan ruh kepada engkau, Dia memerintahkan para malaikat bersujud kepada engkau dan mereka bersujud. Maka mintakanlah syafaat untuk kami dari Tuhanmu!! Apakah engkau tidak melihat bagaimana penderitaan kami ini??” Nabi Adam berkata, “Hari ini Tuhanku sangat marah dengan kemarahan yang belum pernah ada. Dan setelah itu Dia akan pernah marah seperti ini lagi. Dia telah melarang aku untuk mendekati pohon kayu itu, tetapi aku telah mendurhakai-Nya dan mendurhakai diriku sendiri. Karena itu aku malu untuk meminta tolong kepada-Nya!! Pergilah kalian kepada Nuh!!” Masih dengan ‘siksaan’ keringat yang berbeda-beda derajadnya, mereka berombongan mendatangi tempat Nabi Nuh AS, dan berkata, “Wahai Nabi Nuh, engkau adalah utusan Allah yang pertama untuk penduduk bumi ini, dan Allah menyebut engkau sebagai hamba yang bersyukur. Karena itu mintakanlah syafaat untuk kami dari Tuhanmu!! Apakah engkau tidak melihat akibat dari dosa-dosa yang kami lakukan kepada-Nya??”  Nabi Nuh berkata, “Pada hari ini Tuhanku telah marah dengan kemarahan yang belum pernah seperti ini. Bagiku ada satu doa mustajabah, tetapi aku telah menggunakannya untuk mendoakan kaumku. Nafsi, nafsi (urus saja diri sendiri!!), pergilah kalian kepada orang selain aku, pergilah kepada Ibrahim!!” Mereka bergerak berombongan menuju tempat Nabi Ibrahim AS, lalu berkata, “Wahai Nabi Ibrahim, Engkau adalah Nabinya Allah sekaligus Kekasih-Nya (Kholilullah) di antara penduduk bumi ini. Maka mintakanlah syafaat kepada Tuhanmu, tidakkah engkau melihat (akibat) dosa-dosa yang telah kami lakukan kepada-Nya ini??” Nabi Ibrahim berkata, “Hari ini Tuhanku marah dengan kemarahan, yang sebelumnya Dia belum pernah marah seperti ini, dan setelah ini Dia tidak akan marah seperti ini. Sungguh aku telah ‘bersalah’ kepada-Nya sebanyak tiga kali. Pergilah kalian kepada selain aku, pergilah kepada Musa!!” Orang-orang yang mengalami siksaan dan ketidakpastian itu berjalan lagi menuju tempat Nabi Musa AS, dan berkata, “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah, Allah memuliakan engkau dengan risalah dan kalimat-Nya atas manusia. Maka mintakanlah syafaat untuk kami dari Tuhanmu!! Apakah engkau tidak melihat (akibat) dosa-dosa yang kami lakukan kepada-Nya??” Nabi Musa berkata, “Hari ini Tuhanku marah dengan kemarahan, yang sebelumnya Dia belum pernah marah seperti ini, dan setelah ini Dia tidak akan marah seperti ini. Sesungguhnya aku telah membunuh satu jiwa, padahal aku tidak diperintahkan membunuhnya. Pergilah kalian kepada selain aku, pergilan kepada Isa!!” Mereka bergerak berombongan menuju tempat Nabi Isa AS dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan Kalimat-Nya, Dia meletakkan Ruh-Nya kepada Maryam, dan engkau dikehendaki-Nya bisa berbicara ketika masih dalam ayunan. Maka tolonglah berikan syafaat untuk kami kepada Tuhanmu, apakah engkau tidak melihat (akibat) dosa-dosa yang telah kami lakukan kepada-Nya?” Nabi Isa berkata, “Hari ini Tuhanku marah dengan kemarahan, yang sebelumnya Dia belum pernah marah seperti ini, dan setelah ini Dia tidak akan marah seperti ini. Sesungguhnya Dia telah menyebutkan dosa-dosaku, nafsi, nafsi…Pergilah kalian kepada selain aku, pergilah kalian kepada Muhammad!!” Sekali lagi mereka bergerak berombongan menuju tempat Nabi Muhammad SAW, lalu berkata kepada beliau, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan panutup para nabi, dosa-dosa engkau telah diampuni, baik yang terdahulu atau yang terkemudian. Tolong, berilah syafaat kepada kami atas Tuhan engkau. Apakah engkau tidak melihat (akibat) dosa-dosa yang kami lakukan kepada Dia??” Tidak seperti Nabi-nabi sebelumnya, Nabi SAW menyanggupinya dan bersabda, “Aku mempunyai hak memberikan syafaat, yakni kepada orang-orang yang dikehendaki Allah dan disenangi-Nya!!” Ada beberapa versi tentang pertemuan dan percakapan antara manusia dengan para Nabi yang diminta untuk memberikan syafaat tersebut, tetapi intinya adalah hanya Nabi SAW yang akhirnya ‘berani’ menghadap Allah untuk meminta syafaat untuk manusia. Sebenarnya setiap nabi mempunyai satu doa mustajab, yang Allah pasti akan mengabulkan jika ‘fasilitas’ doa itu digunakan. Tetapi hampir semua nabi-nabi tersebut telah menggunakannya di dunia. Nabi Nuh menggunakan untuk menenggelamkan kaumnya yang ingkar dalam air bah, Nabi Ibrahim menggunakan untuk menyelamatkan dirinya dari api Namrudz, Nabi Musa menggunakan untuk menenggelamkan Fir’aun dan pasukannya di Laut Merah, dan begitu pula dengan nabi-nabi lainnya, kecuali Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah bersabda, “Setiap nabi memiliki doa (mustajab) yang selalu diucapkan. (Tetapi) aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat.” Atau dalam riwayat lainnya, “Setiap nabi mempunyai doa yang digunakan untuk kebaikan umatnya. Sesungguhnya aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat!!” Kemudian Nabi SAW bergerak/berjalan menuju Arsy Allah. Beliau meminta ijin masuk dan diijinkan. Hijab demi hijab dibukakan untuk beliau, dan Allah mengajarkan (mengilhamkan) pujian-pujian yang belum pernah diucapkan oleh mahluk manapun, termasuk para malaikat. Nabi SAW bersujud kepada Allah, dan melazimi mengucapkan pujian-pujian tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya, Allah berfirman, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, maka pasti akan diberikan kepadamu!! Berilah syafaat, maka syafaatmu itu akan dikabulkan!!” Nabi SAW bangkit dari sujudnya dan berkata, “Ya Allah, berilah keputusan di antara hamba-hamba-Mu, sungguh telah terlalu lama mereka menunggu, dan masing-masing telah jelas dosanya (dan kebaikannya) ketika di pelataran Makhsyar…!!” Allah mengabulkan permintaan Nabi SAW. Siksaan berupa keringat dan matahari yang didekatkan dihilangkan. Kemudian Allah memerintahkan agar mendatangkan surga dengan segala macam keindahan dan kenikmatannya. Setelah itu didatangkan pula neraka dengan segala macam siksa dan kesengsaraan yang akan dialami penghuninya, dengan semua malaikat penjaga dan penyiksanya. Ketika manusia yang berada di Makhsyar mendengar gemuruh apinya, merasakan percikan hawa panasnya dan segala macam hal yang memberatkan akibat kedatangan neraka tersebut, mereka semua berlutut, tidak terkecuali para nabi dan rasul, termasuk yang tadinya diminta wasilahnya. Para Nabi dan Rasul itu hanya bisa berkata, “Ya Allah, pada hari ini kami tidak meminta yang lain lagi, nafsi, nafsi!!” Nabi SAW sendiri ketika melihat pemandangan tersebut juga berseru, tetapi berbeda dengan seruan para nabi dan rasul lainnya. Beliau bersabda, “Umatku, umatku!! Ya Allah, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku!!” Neraka makin mendekat, apinya makin berkobar dan menjilat-jilat layaknya ingin mencaplok para pendosa yang sedang berkumpul di Makhsyar. Tiba-tiba Nabi SAW mendatangi neraka dan mengambil kendalinya dari tangan para malaikat, beliau bersabda, “Kembalilah engkau, menyingkirlah jauh ke belakang!! Biarkan mendatangi engkau, yang menjadi rombongan (penghuni) engkau!!” Neraka itu berkata, “Biarkanlah aku menempuh jalan yang ditentukan untukku, sesungguhnya engkau, Muhammad, adalah haram bagiku (menyentuhmu)…!!” Tetapi terdengar seruan Allah kepada neraka dari balik Arsy, “Dengarlah apa yang dikatakan Muhammad, dan patuhilah dia!!” Kemudian neraka diseret menuju sisi kiri yang jauh dari Arsy sehingga pengaruhnya jauh berkurang terhadap manusia yang sedang berkumpul di Makhsyar. Inilah syafaat Rasulullah yang bersifat umum, di mana semua manusia merasakan manfaatnya, baik yang beriman ataupun yang ingkar. Allah memerintahkan malaikat untuk membentangkan shirat, jembatan yang melintang di atas neraka dan juga ditegakkan mizan, timbangan amal untuk menghisab amal perbuatan manusia selama di dunia. Secara bersamaan, saat itu beterbangan buku catatan amal menuju pemiliknya masing-masing. Ada yang menerimanya dari arah kanan, yakni orang-orang yang beriman dan bertakwa, orang-orang yang beriman tetapi durhaka dan bergelimang dosa akan menerima dari arah kirinya, dan orang-orang musyrik dan ingkar akan menerima dari arah belakang. Para Nabi dan Rasul akan dihadapkan kepada umatnya untuk mempertanggung-jawabkan tugas risalahnya, dan akhirnya mereka akan masuk surga. Tentunya yang pertama dan memimpin adalah Nabi Muhammad SAW, dan yang terakhir adalah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman karena harus dilakukan hisab dahulu atas kerajaannya di dunia. Bagi para Nabi dan Rasul itu telah disediakan mimbar-mimbar dari emas, dan mereka semua telah duduk di atasnya. Tetapi mimbar yang terbesar, terbaik dan terindah ternyata dalam keadaan kosong, mimbar itu adalah milik Nabi SAW. Ternyata beliau memilih untuk berdiri menghadap Allah dan meminta ijin memberi syafaat untuk umatnya, dan Allah mengabulkannya. Saat itulah muncul suatu seruan (nida’) yang ditujukan kepada umat Nabi SAW yang sedang berkumpul di Makhsyar, “Dimanakah orang-orang yang memiliki keutamaan??” Sekelompok orang dari umat beliau berjalan cepat menuju ke surga, dan para malaikat menyambutnya dan berkata, “Sesungguhnya kami melihat kalian berjalan cepat ke surga, sedangkan kalian belum dihisab, siapakah kalian ini??” “Kami adalah orang-orang yang mempunyai keutamaan!!” Kata mereka. Tentunya pengetahuan mereka akan keutamaan tersebut didasarkan dari catatan buku amal yang telah mereka terima sebelumnya. Para malaikat itu bertanya, “Apakah keutamaan kalian?” Mereka berkata, “Ketika kami didzalimi (dianiaya) kami bersabar, dan ketika dijahati kami memaafkan orang yang berbuat jahat tersebut!!” Para malaikat berkata, “Masuklah kalian ke dalam surga, dia adalah sebaik-baiknya pahala bagi orang yang beramal!!” Setelah mereka masuk semua ke surga, terdengar seruan (nida’) lainnya, “Di manakah orang-orang yang ahlu sabar?” Sekelompok orang dari umat beliau berjalan cepat menuju ke surga, dan para malaikat menyambutnya dan berkata, “Sesungguhnya kami melihat kalian berjalan cepat ke surga, sedangkan kalian belum dihisab, siapakah kalian ini??” “Kami adalah orang-orang ahlu sabar!!” Kata mereka. “Terhadap apakah kalian bersabar??” Tanya para malaikat. Mereka berkata, “Kami bersabar dalam berbuat taat kepada Allah, kami juga bersabar dari berbuat maksiat kepada Allah, dan kami juga bersabar dalam menerima cobaan Allah!!” Para malaikat berkata, “Masuklah kalian ke dalam surga!!” Terdengar lagi satu seruan (nida’), “Di manakah orang-orang yang saling mengasihi karena Allah??” Sekelompok orang lainnya dari umat Nabi SAW berjalan cepat menuju ke surga, dan para malaikat menyambutnya dan berkata, “Sesungguhnya kami melihat kalian berjalan cepat ke surga, sedangkan kalian belum dihisab, siapakah kalian ini??” “Kami adalah orang-orang yang saling mengasihi karena Allah, saling memberi karena Allah dan saling berjanji karena Allah!!” Para malaikat itu berkata, “Masuklah kalian ke dalam surga!!” Nabi SAW sangat gembira dengan adanya mereka yang masuk surga tanpa hisab tersebut. Namun demikian beliau masih belum mau masuk kembali ke surga, beliau berdiri mengawasi umat beliau yang telah selesai dihisab dan melalui shirat. Mulut beliau tidak pernah lepas dari doa, “Allaahumma sallim sallim!!” Artinya adalah : Ya Allah, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku!! Umat Nabi SAW melewati shirat dengan bermacam-macam cara, ada yang secepat kilat menyambar, bagai angin yang kencang, bagai burung yang terbang, bagai kuda yang berlari, bagai orang yang berlari, orang yang berjalan, ada yang cepat ada yang pelan-pelan, bahkan ada yang merangkak dan merayap. Ada yang memerlukan waktu sekejab, harian, bulanan dan ada yang memerlukan hingga puluhan, ratusan, ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun untuk bisa selamat sampai di seberang, dan akhirnya masuk surga. Saat itu waktu menjadi sangat relatif, walau begitu lamanya terasa bagi mereka yang menyeberang shirat, tetapi tidak terasa bagi Nabi SAW, bahkan kegembiraan beliau selalu bertambah ketika ada umat beliau selamat sampai di ujung perjalanan, walau keadaan tubuhnya ada yang tersambar api neraka hingga hangus. Begitu dimandikan di Nahrul Haya’ (sungai kehidupan), mereka kembali seperti semula, bahkan lebih sempurna penampilan fisiknya, dan akhirnya masuk surga. Nabi SAW memang bisa mengenali umat beliau di antara begitu banyak umat yang berada di Makhsyar dan yang sedang menyeberang shirat. Ketika itu beliau melihat beberapa kelompok umat beliau yang tertahan di shirat, padahal begitu banyak yang telah sampai dan masuk surga. Maka beliau berkata kepada Jibril, “Wahai Jibril, mengapa ada umatku yang masih tertahan di shirat??” Jibril diam, tidak segera menjawab, mungkin tidak bisa menjawab, atau tidak tega untuk menjawab, karena jawabannya pasti akan membuat Nabi SAW bersedih. Mereka yang tertahan itu memang umat Nabi SAW, yang tidak bisa tidak harus masuk neraka untuk menebus dan membersihkan dosa dan kesalahan mereka. Kemudian Allah berfirman (mengilhamkan) kepada Jibril tanpa diketahui Nabi SAW, “Singkirkanlah mereka ke lembah antara surga dan neraka, hingga Muhammad masuk surga!!” Maka satu persatu mereka disingkirkan dari shirat dan dikumpulkan di suatu lembah di sisi neraka, yang tidak terlihat Nabi SAW. Ketika beliau tidak lagi mengenali dan melihat umat beliau di makhsyar atau di shirat, beliau beranggapan mereka telah masuk semua ke surga maka beliau juga masuk surga. Setelah itu Allah berfirman kepada Zabaniah, “Serahkanlah mereka (umat Nabi SAW) kepada Malik!!” Ketika Malaikat Malik melihat mereka, ia cukup keheranan karena keadaannya tidak dibelenggu, wajahnya tidak hitam legam, tetap berjalan dan bertumpu dengan kaki mereka, berbeda sekali dengan penghuni neraka sebelumnya. Ia bertanya, “Umat siapakah kalian ini??” “Jangan menanyakan itu, wahai Malik, kami malu bercerita kepadamu, tetapi kami ahli Qur’an, berpuasa di bulan Ramadhan, berhaji, berjihad, menunaikan zakat, menyantuni anak yatim, mandi saat jibanat dan shalat lima waktu!!” “Celaka sekali, bukankah seharusnya Al Qur’an itu mencegah kalian berbuat maksiat kepada Allah, rasanya tidak mungkin ini terjadi!!“ Kata Malaikat Malik. “Wahai Malik, janganlah menghina kami, saat ini kami telah selamat dari hinaan Allah!!” Lalu terdengar suatu seruan, “Hai Malik, masukkanlah mereka ke pintu yang tertinggi dari neraka!!” Malaikat Malik berpaling bersiap melaksanakan perintah tersebut, tetapi mereka berkata, “Berilah kesempatan kepada kami untuk menyesali diri!!” “Tidak ada waktu untuk itu!!” Kata Malik. Tetapi kemudian terdengar seruan, “Hai Malik, biarkanlah mereka menangisi dirinya!!” Mereka berkelompok-kelompok kemudian menangis menyesali diri dan perbuatan maksiat mereka waktu di dunia. Kemudian Malaikat Malik menggiring mereka hingga di tepi jurang neraka, seribu malaikat Zabaniyah yang tidak punya rasa kasihan langsung menangkap dan melemparkannya ke pintu neraka yang tertinggi (yang terdangkal). Api yang berkobar menyambut dan melalap tubuh-tubuh tanpa daya tersebut. Ketika api neraka akan membakar habis hati dan wajahnya, terdengar seruan, “Tahanlah, taruhlah saja api itu di dada dan wajahnya. Mereka memang mengingkari ikrar mereka, tetapi mereka mengenal Aku lewat hati mereka, mereka juga pernah bersujud kepada-Ku dengan wajah-wajah mereka!!” Mendengar seruan seperti itu, salah salah seorang dari mereka juga berseru, “Wahai Rasulullah, wahai Abul Qasim, Wahai Muhammad yang selalu berbuat baik kepada janda dan anak yatim, wahai orang yang paling mulia pada hari kiamat, wahai pemuka seluruh umat, wahai pembuka pintu surga, wahai penutup pintu neraka bagi umatmu yang lemah, yang tidak tahan panas api neraka, siramilah kami dengan syafaatmu agar kami masuk surga!!” Kemudian seorang lagi berseru keras, sambil meletakkan tangannya di telinganya seperti seorang muadzin, “Kami adalah umat Muhammad!!” Berturut-turut akhirnya mereka semua berseru mengakui sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya mungkin mereka malu mengaku sebagai umat beliau karena gelimang dosa dan maksiat yang dilakukannya, tetapi ketika merasakan pedihnya siksaan, dan juga adanya seruan (Allah), yang walau sedikit, mengakui keimanan mereka, mereka akhirnya mengakui dan menyadari kalau hal itu adalah satu-satunya jalan keselamatan di saat seperti itu. Malaikat Malik ikut terhanyut dengan seruan mereka itu dan memohon ijin Allah untuk menemui Nabi SAW di surga, dan Allah mengijinkannya. Ketika berada di hadapan Nabi SAW, Malaikat Malik berkata, “Wahai Muhammad, engkau bersenang-senang di surga sementara umatmu yang lemah membutuhkan bantuanmu. Mereka benar-benar lemah dan sangat menderita di neraka, bantulah mereka!!” Beliau tersentak kaget, dan segera berangkat ke neraka bersama Malaikat Malik. Di tepi jurang neraka, beliau mendengar tangisan dan jeritan pilu mereka yang memanggil nama beliau. Nabi SAW tidak tahan mendengarnya dan ikut menangis, kemudian berkata, “Wahai Malik, keluarkanlah umatku dari neraka!!” Malaikat Malik berkata, “Aku tidak berani mengeluarkan mereka tanpa perintah Allah!!” Nabi SAW bergerak/berjalan menuju Arsy, dan ketika tiba di hadirat Allah, beliau bersujud sangat lama. Ketika bangkit dari sujud, beliau berkata, “Wahai Allah, seperti inikah yang Engkau janjikan untuk tidak menyiksa umatku di neraka??” Allah berfirman, “Wahai Muhammad, mereka telah melupakan dirimu, meninggalkan syariatmu ketika di dunia, karena itu Aku juga melupakan syafaat yang bisa engkau berikan kepada mereka. Tetapi sekarang telah cukup, berilah syafaat kepada mereka!!” Nabi SAW kembali menemui Malaikat Malik dan menyatakan memberi syafaat kepada umat beliau tersebut, dan Allah memerintahkan Malaikat Malik mengeluarkan mereka dari neraka, sehingga hanya orang-orang kafir yang tertinggal di neraka. Orang-orang kafir itu berkata, “Andaikata kita dahulu seorang muslim, tentulah kita akan dikeluarkan dari neraka, sebagaimana mereka dikeluarkan!!”